CERPEN-1

“Kau mencintai dia?”

“Ya.”

“Dia juga mencintai kamu?”

“Tak pasti.”

“Kau tak bertanya ?”

“Belum saatnya.”

“Lantas kapan kau akan sampaikan?”

Alya terdiam. Kedengaran keluhan kecil di bibir. Dia tarik nafas dalam-dalam.

“Aku ada kecendrungan hati padanya. Terlanjur jatuh hati. Bukan aku sengaja.” Alya menundukkan wajah. Sepi seketika.

Fara memandang Alya. Lama. Dia terlalu kenal muslimah itu. Hatinya lembut. Dipenuhi rasa kasih. Begitu mengagumi sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katanya, ‘Fara.. Agama ini agama cinta. Maka sempurnamu dalam beragama, saat hatimu dipenuhi cinta.’

Setahunya, Alya belum pernah diuji sebegini. Belum pernah. Sekali datang, Fara bisa merasa betapa perit hati temannya.

“Kau tidak ingin beritahu dia?” Fara menduga lagi.

“Tidak akan. Aku malu.”

“Apakah kau tak takut dia tersangkut dengan yang lain?”

Alya memejam mata. Membayangkan. Lalu dia menggeleng kecil.

“Aku takut, Fara. Tapi kalau dia untuk aku, Allah akan menjaga dia untukku, bukan?”

“Iya, betullah itu.” Kali ini giliran Fara melepaskan keluhan. Ah. Rumitkah cinta?

“Fara..”

“Iya?”

“Aku takkan beritahu dia. Sekarang belum saatnya. Aku tak mau menjadi fitnah untuknya. Jika kasih ini karena Allah, aku sedang mencoba diriku untuk lebih dekat dengan-Nya.”

“Fara.. Aku tak kesal Allah kurniakan perasaan ini. Tak pernah aku sesalkan. Karena aku ada kasih bukan untuk menerima balasan yang serupa darinya. Bahagia dia, bahagialah aku. Derita dia, deritalah aku. Aku tidak mau persahabatan aku dengannya rusak disebabkan aku. Biar begini. Mungkin lebih baik begini.”

Sekali lagi Fara melepaskan keluhan kecilnya. Ada juga manusia begini? Heran. Tangan Alya digenggam.

“Aku akan terus di belakangmu, sahabat. Mendukung segala kata putusmu selagi Allah ridha.”

Alya menguntum senyum. Tanda terima kasih tanpa suara.

Benar.
Lebih tenang begini.

Sejujurnya, perasaan mengasihi tanpa mengharap balasan itu indah. Dia tahu dia perlu bersederhana dalam urusan cinta. Hidupnya bukan untuk mencari rijal idaman. Hidupnya untuk ummat. Hidupnya untuk Allah. Di luar sana, ada banyak hati yang perlu disirami manisnya iman. Tidak sepatutnya dia melayani perasaan pribadi. Dia akan memperbaiki dirinya. Dia sedang menjaga semampunya sekeping hati itu. Biar segalanya karena Allah. Biar selamanya Allah yang menjadi tempat sandaran.

Alya membuang pandangannya ke luar jendela. Ada hujan yang menyirami bunga kesayangannya.

Aku mau jadi seperti hujan.

beri impian tanpa bayang-bayang.
Memberikan makhluk Tuhan yang lain, sebuah kehidupan.

Wahai melur putihku.

Mekarlah dirimu.
Sebarkan wangian tarbiyahmu.

Muslimahku sayang, jaga hatimu, jaga imanmu. Hidup bukan sekadar untuk dirimu. Hidupmu untuk ummat dan Tuhanmu. Buktikan kecintaanmu pada Rasulullah. Buktikan pengabdianmu untuk Allah. Kawal hati dan perasaanmu. Kau akan kuat. Selagi Tuhan bersamamu.

Muslimahku sayang. Kau acuan ummat ini. Jika kau masih berbangga dengan cinta duniawi, bagaimana mungkin cinta Tuhan kau letak di hati?

Muslimahku sayang. Sayangi dirimu. Jaga auratmu. Pelihara peribadimu. Sebarkan haruman yang membawa ke syurga.

Dan satu pintaku, cintailah Allah.
Lebih dari segalanya.

Kau akan sentiasa bahagia

sumber:aisyahnajibkailany1234.wordpress.com