guru

MENGIKUTI Diskusi Forum Asia Afrika tentang “LPTK kembali ke Khitah Pendidikan Guru Abad 21” bersama Dirjen Guru dan tenaka Kependidikan, Dewan Guru besar UPI dan Rektor UPI memotret dengan jelas potret kualitas guru.

Mengapa kualitas guru menjadi sangat penting? Salah satu dari 17 sasaran SDG (sustainable development goals, 2015-2030) yang dideklarasikan oleh PBB adalah “By 2030 all governments ensure that all learners are taught by qualified, professionally-trained, motivated and well-supported teachers”. Sasaran tersebut kurang lebih menyatakan bahwa proses pendidikan harus didukung oleh guru-guru yang memiliki kualifikasi, terlatih-profesional, memiliki motivasi yang tinggi, serta didukung penuh.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Professor John Hattie dari University of Auckland,  faktor dominan penentu prestasi siswa adalah: (1) karakteristik siswa (49%), serta (2) guru (30%), (3) lain-lain (21%). Beberapa penelitian lain juga memperlihatkan besarnya pengaruh kemampuan guru terhadap hasil pendidikan. Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut serta pencapaian salah satu sasaran SDG, maka peningkatan kualitas guru di Indonesia menjadi upaya strategis yang harus dilakukan yang akan menentukan kualitas generasi berikutnya dari bangsa Indonesia.

Untuk memahami potret kualitas guru di Indonesia, marilah kita perhatikan beberapa fakta sebagai berikut.  (1) Kemampuan Penguasaan Bidang Kompetensi. kemampuan rata-rata calon guru berdasarkan kemampuan menjawab soal uji kompetensi ketika melakukan test calon guru ternyata masih di bawah 50%, yaitu hanya 44%. Kemampuan terendah ada pada kompetensi fisika dan matematika yang hanya mencapai 33% dan 46%. Kemampuan tertinggi adalah kompetensi bahasa Inggris yang hanya mencapai 58%. Fakta ini memperlihatkan betapa rendahnya kompetensi para calon guru di Indonesia. Dapat kita bayangkan apa dampaknya terhadap lulusan yang yang dihasilkan jika siswa dididik oleh guru yang kompetensinya kurang. (2) Kemampuan pedagogic. Kemampuan rata-rata pedagogik berdasarkan data uji kompetensi guru 2015 adalah 56.69%.  (3) Kualitas guru berdasarkan asal peguruan tinggi berbeda, tetapi tidak signifikan (hasil penilaian UKG 2015) (4) Distribusi kemampuan rata-rata guru dari urutan terbaik: Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara-Maluku-Papua (5) Tidak terdapat perbedaan signifikan antara hasil UKG di kabupaten dan di kota (6) Hasil UKG menurun cukup tajam sesudah usia 41 tahun (7) Guru Non PNS sekolah negeri mempunyai nilai UKG paling rendah (8) Tidak ada perbedaan siginifikan antara kompetensi guru bersertifikasi dengan kompetensi guru belum bersertifikasi (9) Semakin tinggi kualifikasi (tingkat pendidikan akhir guru), semakin baik nilai UKG

Berdasarkan potret kondisi guru di Indonesia yang sebagian besar berdasarkan hasil uji kompetensi Guru 2015, dapat ditarik beberapa hasil analisa sebagai berikut.

Rendahnya tingkat kompetensi calon guru berdasarkan  beberapa kemungkinan  yang dapat menjadi penyebabnya, di antaranya adalah: (1) kualitas perguruan tinggi yang menghasilkan guru masih perlu ditingkatkan lagi, (2) lulusan-lulusan SMA yang mengambil pendidikan untuk menjadi guru bukan mahasiswa terbaik; (3) lulusan-lulusan terbaik dari perguruan tinggi di Indonesia tidak tertarik menjadi guru. Sampai saat ini, guru belum menjadi profesi idaman untuk putra-putri terbaik bangsa ini. Ini merupakan tantangan besar bagi pemerintah untuk menciptakan kondisi dimana menjadi guru menjadi salah satu pilihan profesi yang diidamkan oleh banyak orang.

Hal lainnya kemampuan pedagogik adalah salah satu kunci keberhasilan mendidik. Guru yang memiliki kompetensi yang tinggi mungkin tidak akan mencapai hasil maksimal tanpa didukung oleh kemampuan pedagogik yang memadai. Hasil kemampuan pedagogik yang masih relatif rendah (56.59%) menunjukkan bahwa masih perlu usaha-usaha keras untuk meningkatkan kemampuan ini, terutama di perguruan tinggi-perguruan tinggi yang mencetak guru. Bahkan mungkin, mata kuliah pedagogik dapat ditawarkan sebagai mata kuliah pilihan di beberapa perguruan tinggi non LPTK , mengingat kemampuan dan pengetahuan pedagogik diperlukan di semua proses pendidikan, bukan hanya di sekolah.

Menurunnya hasil UKG secara tajam sesudah usia 41 tahun merupakan fakta yang sangat menarik. Tentunya banyak hal yang mungkin jadi faktor penyebabnya. Salah satu kemungkinan adalah rendahnya motivasi belajar bagi guru setelah usia 40 tahun, sehingga kemampuan nya tidak ter-update lagi, di lain pihak saat ini adalah era dimana ilmu berkembang sangat pesat dan era konvergensi keilmuan. Guru harus menjadi manusia pembelajar terus menerus supaya kompetensinya selalu mutakhir. Tentunya pemerintah harus memikirkan inisiatif-inisiatif untuk mengatasi masalah ini, seperti pelatihan-pelatihan untuk perkembangan terkini di bidang keilmuan nya. Mengingat banyak nya jumlah guru, maka berbagi pengetahuan  berbasis TIK menjadi alternatif yang efektif, termasuk mekanisme sertifikasi tambahan untuk memfasilitasi para guru pembelajar.

Berdasarkan hal di atas maka peningkatan pendidikan melalui peningkatan kualitas guru yang merupakan salah satu sasaran suistainable development goals  sudah tidak dapat diabaikan dan merupakan prasyarat utama, guru adalah pelaksana berbagai program dan kebijakan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan nasional dalam hal ini guru harus menjadi manusia pembelajar yang harus trus menerus berupaya meningkatkan pengetahuannya .

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com