kesalahan pendidikan
Google Image

Sebagai pemerhati pendidikan, tentu kita merasa miris mendengar berbagai macam pemberitaan tentang perlakuan yang tidak menyenangkan terjadi kepada sosok Pendidik “Pahlawan tanpa tanda jasa” di berbagai Media baik Offline maupun online. Ada banyak Kasus yang terjadi, yang paling akhir adalah kasus penganiayaan terhadap seorang guru di SMP Negeri 4 Lolak, Sulawesi Utara bernama AT, 47. Hanya gara-gara menegur muridnya, AT babak belur hingga berlumuran darah. Sebagai Kilas Balik, berikut Koronologinya:  

Kejadian bermula pada Selasa kemarin (13/2) sekitar pukul 09.30 WITA. Ketika itu, AT mengundang DP ke sekolah.

Sebab, anak DP mengunggah ke media sosial Facebook tentang adanya salah satu siswa SMP 4 Lolak yang kedapatan membawa alat tes kehamilan.

Saat sedang memberikan pembinaan, korban kemudian memberikan secarik kertas. Isinya soal surat pernyataan tak bakal mengulanginya lagi.

Merasa tak terima dengan keputusan AT, DP naik pitam. Keladinya, dia beranggapan bukan hanya anaknya yang mengunggah berita tersebut.

“Selanjutnya dalam keadaan emosi, terlapor langsung menendang meja kaca yang ada di hadapannya sehingga mengenai korban,” beber Ibrahim kepada JawaPos.com (Group FAJAR), Rabu (14/2/2018). 

Kesalahan-Guru
Ilustrasi: google image

Tak berhenti di situ, DP yang merupakan warga Desa Labuan Uki itu kemudian mengangkat meja kaca tersebut dan menghantamkanya ke kepala korban. “Korban mengalami luka pada tangan kanan, luka pada hidung, dan bengkak pada kepala,” pungkas Ibrahim. Kasus ini kini masih didalami Polda Sulut.

Menanggapi hal ini, Ikatan Guru Indonesia (IGI) menilai, kekerasan yang kerap diterima oleh tenaga pengajar ini dipicu oleh adanya steres akademik dalam dunia pendidikan Indonesia sehingga berujung pada aksi pemukulan dan penganiayaan oleh siswa dan orang tua siswa.

“Buat kami, ini sudah terjadi stres akademik disekolah. Stres akademik yang dimaksud itu mulai dari siswa, guru sampai ke orang tua,” kata ketua IGI Muhammad Ramli Rahim saat dihubungi AKURAT.CO, Kamis (15/2).

Stress akademik itu kata Ramli Dipicu karena beratnya beban belajar siswa disekolah. Dia mengatakan saat ini siswa dibebani dengan segudang mata pelajaran wajib yang direkomendasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sehingga siswa tidak punya pilihan lain. 

siswa
Ilustrasi: stress akademik

“Ini merupakan dampak dari beratnya beban belajar siswa, beban ini dari mata pelajaran yang terlalu banyak,” ungakapnya.

Selian itu, Ramli menjelaskan pakem sistem pembelajaran siswa di Indonesia juga membuat siswa tidak mempunyai banyak pilihan terkait mata pelajaran yang disuka. Dia mencontohkan siswa yang tidak tertarik dengan mata pelajaran matematika juga dipaksa harus mengikuti pelajaran tersebut hal ini kata merupakan salah salah satu faktor yang memicu stres akademik tersebut.

“Misalnya siswa yang tidak mau belajar matematika harus wajib ikut pelajaran matematika, Siwa yang tidak jago main voli Harus jago main voli, ini yang memunculkan stres akademik, stres siswanya, stres gurunya dan orang tua siswa juga ikutan stres,” ungkapnya.

Apa Yang mesti dilakukan? sudah benarkah sistem pendidikan kita selama? Lantas, siapakah yang paling bertanggungjawab?

Seperti yang dilansir dilaman Change.org, sistem pendidikan di Indonesia (SD-SMA/K) dirasa sangat menekan siswa. Siswa terlalu lama berada di dalam ruangan tertutup (sekolah). Rata-rata saat ini siswa pulang sekolah pada sore hari (7jam di sekolah), belum lagi banyak tugas yang harus dikerjakan. Dirasa di Indonesia terlalu banyak jam pelajaran. Jika dibandingkan di Finlandia, tempat yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia namun jam pelajaran disana juga paling sedikit di dunia. Hal itu karena  siswa diberi sedikit pelajaran di sekolah, lalu siswa akan mengembangkan ilmunya sendiri di kehidupannya. Tentunya itu dapat membuat siswa lebih mandiri. 

Menurut mereka (baca: Change.org), setidaknya ada 5 kesalahan dalam sistem pendidikan di Indonesia:

1. Terlalu banyak jam pelajaran. Hal ini dapat mengurangi tingkat kemandirian dan kekritisan cara berpikir siswa.

2. Siswa dipaksakan menghapal dan bukan memahami, karena sistem pendidikan di Indonesia tidak bisa membuat siswa minat pada pelajaran

3. Wadah untuk minat siswa sangat kurang.

4. Fasilitas yang didapatkan para pengajar maupun pelajar di negeri ini masih sangat kurang.

5. Membuat generasi yang terlalu patuh, karena bila ada generasi yang terlalu patuh maka mereka tidak berani protes ketika ada kesalahan dan bila itu terjadi maka tidak akan ada perubahan. Jangankan protes, ngomong hal yang berbeda di sekolah saja tidak berani karena di sekolah beda=salah=nakal=bodoh. Dan akhirnya mencetak generasi yang menghindari konflik.

Bagaimana dengan Indeks Pendidikan Indonesia?

Kualitas pendidikan Indonesia dianggap masih rendah oleh banyak kalangan. Hal ini bisa dilihat dari  lulusan dari sekolah dan perguruan tinggi yang belum siap memasuki dunia kerja. Menurut pengamat ekonomi, Dr. Berry Priyono, bekal kecapakapan yang diperoleh dari lembaga pendidikan tidak memadai untuk digunakan secara mandiri. Sebab yang dipelajari di lembaga pendidikan hanya terfokus pada teori sehingga mengakibatkan peserta didik kurang kreatif dan inovatif. Indikator rendahnya kualitas pendidikan Indonesia ini diperparah dengan data dari  Badan Pusat Statistik yang menyebutkan penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja berjumlah 111,28 juta penduduk dan 55,12 juta diantaranya adalah tamatan SD. Artinya 50 persen pekerja Indonesia adalah tamatan pendidikan dasar.

Jika dibangdingkan dengan Negara ASEAN, Singapura memiliki presentase kelulusan terbanyak di secondary sebanyak 24,6 persen dan lulusan pergurutan tinggi sebanyak 11,7  persen. Berdasarkan QS World Universities Ranking, ranking perguruan tinggi negeri kita juga kalah dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. Kita berada di peringkat 50 Asia dan 217 Dunia. Kalah jauh dibanding Singapura yang memperoleh peringkat 3 (NUS) dan 58 (NTU). Di Asia tenggara perguruan tinggi kita kalah dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. Indonesia juga menurun poinnya tahun ini di EDI (Education Development Index). Kemerosotan ini dipengaruhi oleh kualitas dan paradigm pendidikan di negeri kita.

Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia diperparah lagi dengan isu kecurangan Ujian Nasional yang selalu diperbincangkan setiap tahun, sebab ini dapat menjadi tolak ukur jalannya system pendidikan Indonesia yang masih jauh dari keempurnaan. Penugasan anggota kepolisian guna memantau jalannya Ujian Nasional serta penggunaan kamera pemantau untuk mengawasi jalannya UN di sekolah-sekolah menjadi hal yang justru tidak pernah terjadi di negeri lain. Selain itu, Indonesia berada di urutan 12 se-Asia dibawah Vietnam dan Thailnad terkait kualitas system pendidikan yang dikaitkan dengan daya saing tenaga kerja pada 12 negara di Asia. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas lulusan sarjana  di negeri kita belum mampu di letakkan secara sejajar dengan negara-negara lain bahkan dengan Vietnam sekalipun. Kondisi ini menyebabkan bahwa ada ketidakpercayaan publik terhadap system dan kualitas pendidikan di Indonesia serta paradigma yang keliru terhadap pendidikan di negeri ini.

Di Singapura, pemerintah memberikan fasilitas setiap tahun kepada kepala sekolah untuk mengadakan studi banding di luar negeri. Begitu laporan hasil diterima oleh menteri pendidikan Singapura, hasilnya langsung diteruskan ke parlemen untuk mendapat tindak lanjut. Malaysia pada awalnya meng-import guru-guru dari Indonesia karena tarifnya masih reatif murah, tetapi mahasiswanya langsung dalam jumlah besar melanjutkan ke luar negeri (Inggris dan USA) atas biaya negara. Pada waktu perang dunia kedua di Inggris, Sir Winston Churchill menekankan parlemen untuk menambah anggaran pendidikan negara tersebut. Selain itu kurikulum teknologi yang dipakai di Inggris, sudah diberika di Grade 1 (usia 5 tahun) sampai Grade 10, sudah pula diajarkan pola fikir untuk menjadikan anak didik di Inggris dapat mandiri/memiliki life skill sebagai dasar dari entrepreneur, sehingga lulus SMU tak tergantung lagi pada orangtua.

sekolah
Perbandingan Sistem Pendidikan di Negara lain

Contoh lainnya adalah Selandia Baru. Di negara ini memberlakukan sistem yang cukup menarik, siswa level SMA hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib, yakni Matematika dan Bahasa Inggris. Selebihnya adalah pelajaran pilihan yang disesuaikan dengan cita-cita masing-masing. Bagi yang ingin menjadi dokter silahkan mengambil pelajaran Kimia dan Biologi, bagi penyuka Fisika dan Kimia akan diarahkan menjadi engineer, sedangkan pencinta ilmu ekonomi bisa mengambil Statistik dan Akuntansi. Sedangkan Siswa SMA di negeri kita “diharuskan” menjadi manusia super yang menguasai seluruh ilmu, baik sains, sosial dan juga bahasa. Ya, mereka memang mempelajarinya namun tidak banyak yang bisa mengaplikasikan ilmu yang telah didapat. Hal ini bisa dilihat dari lulusan SMA yang bisa dikatakan tidak memiliki kemampuan untuk bekerja. 

Dari beberapa contoh diatas, kita bisa menarik benang merah kesalahan paradigma pendidikan yang dipakai sekarang adalah, pertama: mempersiapkan anak didik yang “siap pakai”. Hal ini secara mendasar telah membentuk budaya Employye. Kita seharusnya mempersiapkan anak didik yang “siap memakai”. Kita sadar bahwa sebagai employye nasibnya ditentukan oleh orang lain, bukan menentukan nasib orang lain. Sasaran pendidikan dari paradigma SIAP PAKAI adalah keterampilan khusus seperti akuntan, hokum dan lainnya. Kemudian dengan kursus singkat yang diharapkan memimpin bebagai macam disiplin keilmuan, atau bermain diluar bidang keahliannya,. Kita lihat dampaknya sekarang, mismanajemen dalam birokrasi sebab tidak ada standar kompetensi sebagai Patoka untuk menjadi pimpinan.

Demikian, semoga bermanfaat.

Rujukan: dari berbagai sumber.